Kamis, 23 Juni 2016

UMAR MEMASUKI YERUSALEM

“Di antara umat-umat yang hidup sebelum kalian, ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan seperti nabi ( muhadditsun ). Sekiranya salah satunya dari mereka ada dalam umatku, niscaya ia adalah ‘Umar, “ ( HR. Bukhari dan Muslim )




Setelah ‘Umar menyelesaikan perjanjian damai dengan para pembesar kota yerusalem, ‘Umar bersama Amru bin ‘Ash dan Syurahbil bin Hasanah serta pasukan muslim yang bersamanya memasuki kota Baitul Maqdish. Kedatangannya disambut Pendeta Severnius dan para pembesar kota.
Penduduk Yerusalem menyambut kedatangan ‘Umar dan pasukan muslim dengan penuh takjub dan hormat. ‘Umar menyapa mereka dengan ramah. ‘Umar telah menjajikan keamanan kepada mereka. Orang-orang yang datang menyambut ‘Umar menyaksikan kekontrasan antara sikap ‘Umar yang ramah dan sikap kaisar sebelumnya yang selalu buruk dan kasar.
Setelah  berbincang dengan para pembesar kota dan penduduk kota Yerusalem, ‘Umar selanjutnya menyendiri di suatu tempat, kemudian melakukan shalat sebagai tanda syukur atas karunia yang telah diberikan kepadanya dan kaum muslim.
Ini kemenangan yang patut disyukuri. Bagaimana tidak, dulu Rasulullah ketika peristiwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu, Rasulullah tidak pernah lagi ke palestina, tidak pula ke Baitul Maqdis. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, beliau juga tidak di takdirkan pergi ke Baitul Maqdis. Sekarang, Baitul Maqdis telah membukakan pintunya untuk ‘Umar. Adakah karunia karunia yang lebih besar daripada ini yang membuat ‘Umar bersyukur ?
‘Umar tinggal beberapa hari disana. Mengisi hari-harinya, Severinus mengajak ‘Umar berkeliling kota Yerusalem. ‘ Umar diperlihatkan peninggalan-peninggalan kaum sebelumnya di kota itu.
Siang menjelang zhuhur pun tiba. Mereka yang ketika itu berada di suatu gereja, menawarkan ‘Umar untuk shalat di dalam gereja itu. Namun, ‘Umar menolak. Selain karena terdapat banyak patung di dalamnya, ‘Umar juga khawatir jika ia melaksanakan shalat di tempat itu, akan diikuti kaum muslim lainnya dengan beralasan karena ‘Umar pernah solat di tempat ini. Jika demikian, kaum muslim lainnya akan melaksanakan di tempat itu juga, sehingga orang-orang Nasrani akan dikeluarkan dari gereja-gereja mereka. Jika ini terjadi, berarti kaum Muslim telah menyalahi perjanjian.
Akhirnya ‘Umar keluar dari kota itu, lalu memilih tempat reruntuhan kuil Sulaiman untuk melaksanakan shalat. Di tempat inilah kemudian kaum Muslim mendirikan masjid al-Qibly ( orang-orang menyebutnya msjid al-Aqsa ).


Gereja yang ‘Umar datangi adalah Gereja Holy Sepulchre. Klan Nusseibeh dan joudeh menjadi juru kunci Gereja Holy Sepulchre yang di percayai sebagai kawasan Golgotha tempat penyaliban dan makam Yesus Kristus, Gereja makam kudus. Dua keluarga muslim ini dianggap berkah karena dapat jadi penengah di tengah perselisihan banyak denominasi gereja yang mengelola petilasan di Yerusalem Timur tersebut.

Sumber :
- The Golden Story Of Umar Bin Khaththab, Maghfirah Pustaka
- Bayu Probo(2014).Kisah Keluarga Muslim Juru Kunci Makam Yesus Kristus.From http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.satuharapan.com/read-detail/read/kisah-keluarga-muslim-juru-kunci-makam-yesus-kristus&ei=Ygem_cGc&lc=id-ID&s=1&m=913&host=www.google.co.id&ts=1466662324&sig=AKOVD67mc9hpsivUmGhhSDdFnUJXNjoQFg, 23 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar