“Di antara umat-umat yang hidup sebelum kalian, ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan seperti nabi ( muhadditsun ). Sekiranya salah satunya dari mereka ada dalam umatku, niscaya ia adalah ‘Umar, “ ( HR. Bukhari dan Muslim )
Setelah
‘Umar menyelesaikan perjanjian damai dengan para pembesar kota yerusalem, ‘Umar
bersama Amru bin ‘Ash dan Syurahbil bin Hasanah serta pasukan muslim yang
bersamanya memasuki kota Baitul Maqdish. Kedatangannya disambut Pendeta
Severnius dan para pembesar kota.
Penduduk
Yerusalem menyambut kedatangan ‘Umar dan pasukan muslim dengan penuh takjub dan
hormat. ‘Umar menyapa mereka dengan ramah. ‘Umar telah menjajikan keamanan
kepada mereka. Orang-orang yang datang menyambut ‘Umar menyaksikan kekontrasan
antara sikap ‘Umar yang ramah dan sikap kaisar sebelumnya yang selalu buruk dan
kasar.
Setelah berbincang dengan para pembesar kota dan
penduduk kota Yerusalem, ‘Umar selanjutnya menyendiri di suatu tempat, kemudian
melakukan shalat sebagai tanda syukur atas karunia yang telah diberikan
kepadanya dan kaum muslim.
Ini
kemenangan yang patut disyukuri. Bagaimana tidak, dulu Rasulullah ketika
peristiwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu, Rasulullah tidak pernah lagi ke
palestina, tidak pula ke Baitul Maqdis. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah,
beliau juga tidak di takdirkan pergi ke Baitul Maqdis. Sekarang, Baitul Maqdis
telah membukakan pintunya untuk ‘Umar. Adakah karunia karunia yang lebih besar
daripada ini yang membuat ‘Umar bersyukur ?
‘Umar
tinggal beberapa hari disana. Mengisi hari-harinya, Severinus mengajak ‘Umar
berkeliling kota Yerusalem. ‘ Umar diperlihatkan peninggalan-peninggalan kaum
sebelumnya di kota itu.
Siang
menjelang zhuhur pun tiba. Mereka yang ketika itu berada di suatu gereja,
menawarkan ‘Umar untuk shalat di dalam gereja itu. Namun, ‘Umar menolak. Selain
karena terdapat banyak patung di dalamnya, ‘Umar juga khawatir jika ia
melaksanakan shalat di tempat itu, akan diikuti kaum muslim lainnya dengan
beralasan karena ‘Umar pernah solat di tempat ini. Jika demikian, kaum muslim lainnya
akan melaksanakan di tempat itu juga, sehingga orang-orang Nasrani akan
dikeluarkan dari gereja-gereja mereka. Jika ini terjadi, berarti kaum Muslim
telah menyalahi perjanjian.
Akhirnya
‘Umar keluar dari kota itu, lalu memilih tempat reruntuhan kuil Sulaiman untuk
melaksanakan shalat. Di tempat inilah kemudian kaum Muslim mendirikan masjid
al-Qibly ( orang-orang menyebutnya msjid al-Aqsa ).
Gereja yang ‘Umar datangi
adalah Gereja Holy Sepulchre. Klan Nusseibeh dan joudeh menjadi juru kunci
Gereja Holy Sepulchre yang di percayai sebagai kawasan Golgotha tempat penyaliban
dan makam Yesus Kristus, Gereja makam kudus. Dua keluarga muslim ini dianggap
berkah karena dapat jadi penengah di tengah perselisihan banyak denominasi
gereja yang mengelola petilasan di Yerusalem Timur tersebut.
Sumber
:
- The Golden Story Of Umar Bin Khaththab, Maghfirah Pustaka
- Bayu Probo(2014).Kisah Keluarga
Muslim Juru Kunci Makam Yesus Kristus.From http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.satuharapan.com/read-detail/read/kisah-keluarga-muslim-juru-kunci-makam-yesus-kristus&ei=Ygem_cGc&lc=id-ID&s=1&m=913&host=www.google.co.id&ts=1466662324&sig=AKOVD67mc9hpsivUmGhhSDdFnUJXNjoQFg,
23 Juni 2016
- The Golden Story Of Umar Bin Khaththab, Maghfirah Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar