“Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya”.-Ali Bin Abi Thalib RA
Muhammad bin Idris bin Usman bin Syafi’i
Al-Quraisy atau biasa di kenal dengan Imam Syafi’I adalah seorang Imam
Mahzab yang ke-empat. Beliau mempunyai ketajaman akal & kecerdasan yang
luar biasa. Beliau telah menghafal Al-Qur’an pada umur 9 tahun, setahun
kemudian dia menghafal kitab Al-Muwatta’ karangan Imam Malik. Beliau merupakan
seorang begitu sangat mencintai ilmu.
Kisahnya berawal pada suatu hari
beliau meminta izin kepada ibundanya menuntut ilmu ke Madinah. Tibanya di
Madinah, beliau menuju Masjid Nabawi & menunaikan sholat sunah dua rakaat.
Setelah selesai sholat beliau tertarik pada satu majelis ilmu dalam masjid
tersebut. Seseorang
sedang menyampaikan tentang hadis-hadis Rasulullah SAW. Beliau adalah Imam Malik. Dengan
langkah tertib, Imam Syafi’I menuju ke tempat
Imam Malik dan duduk menuju murid-murid beliau yang lain. Kemudian dia meletakan
jarinya di mulut dan membasahinya dengan air liur, beliau menulis dengan jari telunjuk
kanannya diatas tangan kirinya. Beliau menulis segala apa yang di ajarkan oleh Imam Malik di
atas telapak tangannya. Dan ini terus dilakukan berkali-kali olehnya sedangkan
umur beliau masih 11 tahun. Tanpa disadari, Imam Malik memperhatikan tingkah lakunya. Merasa
terganggu , dipikirnya bahwa Imam Syafi’i bermain-main.
Selesai
Majelis tersebut Imam Malik memanggil Imam Syafi’I dan berkata ”kesini
kamu”.
Imam Syafi’i datang dan duduk di hadapan Imam Malik.
Imam Malik Kemudian bertanya padanya, “Apakah kamu berasal dari Mekah ?”.
Imam
Syafi’I menjawab, ”benar”.
“Jangan kamu hadir lagi dalam pelajaran kami” seru Imam Malik.
Dia berkata “Mengapa ?”.
Dijawab “karena engkau hanya main-main dan berbuat sia-sia saat aku mengajar”.
“Maaf
tuan. Demi Allah sebenarnya saya tidak main-main dan berbuat sia-sia, kenapa bisa ?“.
karena engkau menaruh air liur di jarimu dan engkau menggerak-gerakannya, ini
sia-sia.
Imam Syafi’i berkata: “Aku hanya
menulis saja”.
“Kalau begitu mana alat tulismu, mana penamu ?”
“Engkau datang tanpa alat tulis dan pena ?”
“Saya adalah orang miskin, demi Allah aku tidak mampu untuk membelinya”.
“Aku hanya menulis hadits seperti
ini agar aku bisa menghapal”.
“Jika engkau mau aku akan setorkan seluruh hadits yang sudah engkau
sampaikan..”.
Imam Malik berkata “lakukanlah, setorkanlah”.
Maka Imam Syafi’i menyetorkan seluruh
hadits dari awal dia belajar. Imam Malik Mendekat dan mulai membantunya. Setelahnya beliau melafalkan apa yang di
hafalnya. Imam Malik mendapati tidak ada ada satu hadis yang tertinggal dari 20
hadis yang diajarkan pada hari itu. Semenjak itulah, Imam Syafi’I menetap di
rumah Imam Malik selama 18 bulan Imam Syafi’I berguru pada Imam Malik. Hatinya
yang suci serta kegigihannya dalam menuntut ilmu memudahkan beliau memahami dan
menghafalkan kitab Al-Muwatta’, sehingga akhirnya Imam Syafi’I sering diberi
penghormatan untuk mengajar murid muridnya Imam Malik yang lain.
Dikisahkan bahwa ibunya pergi ke para
tukang daging yang menyembelih unta. Jika daging sudah dipisah mereka membuang
tulangnya. Maka ibunya mengambil bahunya, karena bahu unta itu lebar. Kemudian dia
membersihkannya dan memberikannya untuk anaknya (Imam Syafi’i) agar dia bisa
menulis. Ibunya tidak memiliki uang untuk membeli kertas.
Dikisahkan pula bahwa ibunya pergi ke
kantor pemerintahan. Maka dia mengambil kertas- kertas yang telah di buang,
kemudian diberikan kepada anaknya agar dia bisa menulis hadits. Jika kita
melihat lembaran Imam Syafi’i, maka di depannya ada hadits yang telah tertulis.
Dan jika kita melihat di belakangnya maka ada catatan-catatan pemerintah ketika
itu.
MasyaAllah
Kisah Imam Syafi’I tersebut sangat menginspirasi dan menggugah hati saya untuk mulai menghobikan diri saya
untuk menulis. Sebagai cendikiawan muslim sangat banyak kebaikan-kebaikan yang bisa beliau berikan
dan kita
petik dari kisahnya. Wallahu A’lam Bishawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar