Senin, 13 Juni 2016

Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

“Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya”.-Ali Bin Abi Thalib RA

Muhammad bin Idris bin Usman bin Syafi’i Al-Quraisy atau biasa di kenal dengan Imam Syafi’I adalah seorang Imam Mahzab yang ke-empat. Beliau mempunyai ketajaman akal & kecerdasan yang luar biasa. Beliau telah menghafal Al-Qur’an pada umur 9 tahun, setahun kemudian dia menghafal kitab Al-Muwatta’ karangan Imam Malik. Beliau merupakan seorang begitu sangat mencintai ilmu.
            Kisahnya berawal pada suatu hari beliau meminta izin kepada ibundanya menuntut ilmu ke Madinah. Tibanya di Madinah, beliau menuju Masjid Nabawi & menunaikan sholat sunah dua rakaat. Setelah selesai sholat beliau tertarik pada satu majelis ilmu dalam masjid tersebut. Seseorang sedang menyampaikan tentang hadis-hadis Rasulullah SAW. Beliau adalah Imam Malik. Dengan langkah tertib,  Imam Syafi’I menuju ke tempat Imam Malik dan duduk menuju murid-murid beliau yang lain. Kemudian dia meletakan jarinya di mulut dan membasahinya dengan air liur, beliau menulis dengan jari telunjuk kanannya diatas tangan kirinya. Beliau menulis segala apa yang di ajarkan oleh Imam Malik di atas telapak tangannya. Dan ini terus dilakukan berkali-kali olehnya sedangkan umur beliau masih 11 tahun. Tanpa disadari, Imam Malik memperhatikan tingkah lakunya. Merasa terganggu , dipikirnya bahwa Imam Syafi’i bermain-main.

Selesai Majelis tersebut Imam Malik memanggil Imam Syafi’I dan berkata ”kesini kamu”.
Imam Syafi’i datang dan duduk di hadapan Imam Malik.
Imam Malik Kemudian bertanya padanya, “Apakah kamu berasal dari Mekah ?”.
Imam Syafi’I menjawab, ”benar”.
“Jangan kamu hadir lagi dalam pelajaran kami seru Imam Malik.
Dia berkata “Mengapa ?”.
Dijawab “karena engkau hanya main-main dan berbuat sia-sia saat aku mengajar”.
“Maaf tuan. Demi Allah sebenarnya saya tidak main-main dan berbuat sia-sia, kenapa bisa ?“.
karena engkau menaruh air liur di jarimu dan engkau menggerak-gerakannya, ini sia-sia.
Imam Syafi’i berkata: “Aku hanya  menulis saja”.
“Kalau begitu mana alat tulismu, mana penamu ?”
“Engkau datang tanpa alat tulis dan pena ?”
“Saya adalah orang miskin, demi Allah aku tidak mampu untuk membelinya”.
“Aku  hanya menulis hadits seperti ini agar aku bisa menghapal”.
“Jika engkau mau aku akan setorkan seluruh hadits yang sudah engkau sampaikan..”.
Imam Malik berkata “lakukanlah, setorkanlah”.

Maka Imam Syafi’i menyetorkan seluruh hadits dari awal dia belajar. Imam Malik Mendekat dan mulai membantunya. Setelahnya beliau melafalkan apa yang di hafalnya. Imam Malik mendapati tidak ada ada satu hadis yang tertinggal dari 20 hadis yang diajarkan pada hari itu. Semenjak itulah, Imam Syafi’I menetap di rumah Imam Malik selama 18 bulan Imam Syafi’I berguru pada Imam Malik. Hatinya yang suci serta kegigihannya dalam menuntut ilmu memudahkan beliau memahami dan menghafalkan kitab Al-Muwatta’, sehingga akhirnya Imam Syafi’I sering diberi penghormatan untuk mengajar murid muridnya Imam Malik yang lain.
Dikisahkan bahwa ibunya pergi ke para tukang daging yang menyembelih unta. Jika daging sudah dipisah mereka membuang tulangnya. Maka ibunya mengambil bahunya, karena bahu unta itu lebar. Kemudian dia membersihkannya dan memberikannya untuk anaknya (Imam Syafi’i) agar dia bisa menulis. Ibunya tidak memiliki uang untuk membeli kertas.
Dikisahkan pula bahwa ibunya pergi ke kantor pemerintahan. Maka dia mengambil kertas- kertas yang telah di buang, kemudian diberikan kepada anaknya agar dia bisa menulis hadits. Jika kita melihat lembaran Imam Syafi’i, maka di depannya ada hadits yang telah tertulis. Dan jika kita melihat di belakangnya maka ada catatan-catatan pemerintah ketika itu. 

MasyaAllah Kisah Imam Syafi’I tersebut sangat menginspirasi dan menggugah  hati saya untuk mulai menghobikan diri saya untuk menulis. Sebagai cendikiawan muslim sangat banyak kebaikan-kebaikan yang bisa beliau berikan dan kita petik dari kisahnya. Wallahu A’lam Bishawab 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar